Rabu, 01 Agustus 2012

PANEN DAN PASCA PANEN MANGGA HARUMMANIS


Setiap musim mangga yang terjadi antara bulan September sd. Desember, kota Jakarta selalu kebanjiran komoditas ini. Jenis yang paling banyak diproduksi petani dan dipasarkan di Jakarta serta kota-kota besar lainnya adalah harummanis (arummanis). Saat panen raya, harga buah ini menjadi sangat murah. Di pasar swalayan pun, harummanis bisa dibeli dengan harga Rp 3.000,- per kg. Meskipun normalnya Rp 6.000,- Di Pasar Induk Kramatjati, Jakarta Timur, harga grosir harummanis yang belum digrade, ada yang hanya Rp 1.000,- per kg. Di kios-kios buah kakilima di Jakarta, mangga harummanis dijual dengan variasi harga antara Rp 1.000,- per buah, sampai dengan Rp 2.000,- Mangga yang dijual dengan harga Rp 1.000,- di kakilima atau Rp 3.000,- di pasar swalayan, kualitasnya sangat meragukan.
Bisa saja kualitas mangga itu bagus, namun biasanya masih muda, busuk atau merupakan jenis harummanis yang masam. Dari buah sebanyak 2 kg. yang dibeli konsumen atau sekitar 6 buah @ Rp. 1.000,- tersebut, paling banyak yang memenuhi syarat untuk dikonsumsi hanyalah separonya. Bahkan, mangga yang berharga Rp 2.000,- di kakilima dan Rp 6.000,- per kg. di pasar swalayan pun, kualitasnya juga tidak bisa dijamin. Penyebab utama rendahnya kualitas mangga yang dipasarkan di Indonesia adalah, penanganan panen dan pasca panen yang sangat jelek. Penanganan yang jelek ini, disebabkan oleh belum banyaknya kebun mangga yang dikelola secara profesional.
Hampir 100% mangga yang dipasarkan di Jakarta, baik yang di kakilima maupun yang di pasar swalayan, seluruhnya berasal dari tanaman rakyat. Tanaman mangga harummanis itu tersebar di sentra mangga mulai dari Subang, Indramayu, Majalengka, Cirebon, Kuningan, Brebes, Tegal, Rembang, Gresik, Pasuruan, Probolinggo dan Situbondo. Para pedagang sudah hafal benar asal-usul mangga harumanis yang mereka beli berikut karakteristik buahnya. Di sentra-sentra tersebut, tanaman mangga tumbuh di pekarangan rumah dan kebun. Satu dua sudah ada yang mulai membudidayakan harummanis secara monokultur di ladang maupun sawah. Namun luas areal kebun mereka masih sebatas ratusan hingga ribuan meter persegi.
Kebun mangga skala besar yang dikelola secara profesional, baru terdapat di Jawa Timur dan jumlahnya hanya sekitar lima kebun. Mangga harummanis dari kebun-kebun ini, kualitasnya memang bisa dijamin. Namun produk mereka tidak pernah bisa masuk sampai ke pasar umum. Karena volumenya masih terlalu kecil dibanding dengan permintaan. Padahal, di antara kebun-kebun tersebut, ada yang menjual produk mereka dengan harga Rp 40.000,- per kg. Namun dengan harga setinggi itu pun, produk mangga mereka masih menjadi rebutan konsumen. Hingga sebenarnya, sampai dengan saat ini masyarakat Indonesia masih kekurangan mangga harummanis kualitas baik. Sementara rakyat lapis bawah sebenarnya telah membayar terlalu mahal untuk mangga yang kualitasnya sangat rendah. Sebab dari 2 kg. mangga yang mereka beli, belum tentu ada 1 kg. yang layak makan.
Kualitas produk pertanian, sebenarnya tidak hanya ditentukan oleh panen dan pasca panen. Sebab benih, lahan, agroklimat, penanaman, perawatan tanaman (termasuk pengairan), semuanya akan ikut mementukan kualitas sebuah komoditas. Namun khusus mangga harummanis, saat ini yang paling mendesak untuk ditangani adalah panen dan pasca panen. Populasi tanaman harummanis produktif, saat ini sudah cukup banyak. Baik yang ada di kebun maupun pekarangan rumah. Cara menghitung tanaman buah di Indonesia memang beda dengan di Malaysia, Thailand atau Australia. Di Thailand, produksi mangga dihitung dari luas areal. Misalnya di provinsi Rayong ada sekian hektar kebun mangga yang per hektarnya akan menghasilkan sekian ton buah per tahun. Di Indonesia satuan hektar tidak mungkin digunakan untuk menghitung kebun mangga. Di sini satuannya adalah populasi pohon.
Karena tanaman mangga itu tumbuh di kebun dan halaman rumah yang terpencar-pencar, maka pemanenannya juga dilakukan dengan cara yang spesifik. Para pedagang pengumpul akan berkeliling untuk mendatangi pemilik pohon mangga. Para pedagang pengumpul ini bahkan sudah mendatangi para pemilik pohon ketika tanaman ini masih pentil (masih hijau). Dari sinilah lahir istilah para "pengijon", yakni tengkulak yang membeli buah ketika masih pentil dengan harga sangat murah. Kalau dalam satu pohon sudah ada satu dua buah yang masak, maka pedagang pengumpul itu akan memanen mangga itu sekaligus. Sebab kalau mereka hanya memilih mangga yang sudah benar-benar tua, maka pemanenan harus dilakukan berulangkali. Selain itu juga tidak ada jaminan bahwa buah yang masih tertinggal itu tidak diambil maling atau dimakan kalong serta codot (kelelawar pemakan buah).
Hasil panen ini akan berupa campuran buah yang benar-benar sudah sangat tua (masak pohon), setengah tua dan masih muda. Buah harummanis muda yang kulit bijinya masih lunak dan putih pun, kalau diperam akan bisa empuk. Namun daging buahnya tetap kuning pucat dan tidak bisa menjadi oranye. Dengan pola panen seperti ini, buah yang telah benar-benar tua hanyalah sekitar 25%, yang setengah tua 25% dan yang masih muda juga sekitar 25%. Sisanya yang 25% berupa buah rusak atau afkir (kecil, cacat, busuk dll). Oleh pedagang pengumpul, mangga hasil panen ini ada yang digrede menjadi Super, A, B, C dan D. Grade super biasanya hanya satu dua dan habis dibeli oleh pelanggan. Grade A akan masuk toko buah. Kelas B dan C masuk ke pasar swalayan atau kios buah. Sementara grade C dan terutama D akan diobral di kakilima. Mangga yang telah digrade, umumnya dikemas dalam peti kayu.
Ada pula pedagang pengumpul yang langsung memasukkan mangga hasil panen ini ke dalam keranjang besar tanpa digrade dan langsung dikirim ke pasar induk. Para pedagang akan melakukan grading kalau tampak bahwa kualitas A dan B volumenya lebih banyak dibanding C dan D. Namun kalau kualitas C dan D jumlahnya lebih banyak, mereka akan langsung mengemasnya dalam keranjang tanpa digrade dan mengirimnya ke pasar induk. Pola semacam inilah panen mangga harummanis yang terjadi di negeri ini. Hingga kualitas buah yang terdistribusi ke konsumen menjadi sangat rendah. Pola panen dan perdagangan ini pernah dicoba untuk diubah, namun tingkat keberhasilannya sangat rendah. Sebuah perusahaan di Surabaya pernah mencoba memberikan penyuluhan kepada petani, untuk memanen mangganya secara bertahap. Hanya yang masak pohon yang boleh dipanen dan perusahaani itu akan membelinya dengan harga tinggi. Ternyata respon masyarakat sangat kurang.
Namun jerih-payah perusahaan ini sedikit banyak ada hasilnya. Sekarang di Pasuruan, Probolinggo dan Rembang sudah mulai banyak pemilik pohon yang tidak menebaskan buahnya (menjual borongan per pohon) ke pedagang pengumpul. Mereka mulai bersedia memanennya secara bertahap hanya yang telah masak pohon. Namun hasilnya juga tidak mereka jual ke perusahaan penampung, melainkan langsung ke konsumen dengan predikat "mangga suluhan" (mangga masak pohon). Kalau harga eceran mangga kualitas B Rp 4.500,- per kg. di tingkat konsumen, maka mangga suluhan ini bisa mereka jual dengan harga Rp 7.500,- per kg. Harga ini masih jauh lebih murah dibanding dengan harga standar mangga masak pohon yang Rp 20.000,- per kg. di tingkat konsumen.
Tingginya harga mangga masak pohon, tentu bukan hanya disebabkan oleh tingkat ketuaannya. Bentuk, ukuran (bobot), warna dan kemulusan kulit juga ikut menentukan tinggi rendahnya harga mangga suluhan. Secara teknis, standar kualitas mangga harummanis ini sudah dibakukan dalam SNI (Standar Nasional Indonesia) yang bisa diperoleh di PSA (Pusat Standardisasi dan Akreditasi) Deptan. Cara pemetikannya pun tidak bisa hanya dengan dijolok menggunakan galah, melainkan digunting tangkainya. Setelah itu buah ditiriskan dengan cara dibaringkan di alas kertas koran. Pemotongan dengan menyertakan tangkainya, bertujuan agar getah yang menetes jauh dari pangkal buah hingga tidak mengotori kulit. Pola pemetikan demikian masih belum merata diterapkan di antara para petani penghasil mangga suluhan.
Sebenarnya, mangga suluhan dari kebun-kebun profesional, tidak harus  dikonsumsi langsung saat itu juga. Kebun-kebun modern ini sudah bisa menyeleksi buah untuk dikonsumsi langsung saat ini juga, dua hari lagi sampai ke seminggu kemudian. Pola panen demikian sangat penting untuk melayani konsumen jarak jauh yang memerlukan waktu pengiriman antara dua sd. tiga hari. Mangga-mangga suluhan ini tidak dikemas dalam keranjang atau peti kayu model pasar induk, melainkan dalam kardus khusus dengan nama jenis mangga dan perkebunan penghasilnya. Mangga-mangga demikian dengan kelas super, bisa berharga sampai Rp 40.000,- per kg. isi dua buah (@ 0,5 kg). Hingga harga satu butir mangga itu mencapai Rp 20.000,-
Sebenarnya, petani pemilik satu dua pohon mangga di halaman rumah, potensial untuk memanen mangganya dengan pola masak pohon. Kalau kemudian petani bersedia mengairi tanaman mereka pada saat kemarau, memupuknya dengan NPK dan menyemprotnya agar tidak terserang penggerek batang, maka hasilnya akan bisa meningkat duakali lipat. Padahal biaya untuk membeli NPK @ tanaman 2 kg. hanyalah Rp 8.000,- Kalau hasil per pohon sebelumnya 50 butir @ Rp 1.000,- maka dengan pemupukan dan penen masak pohon, hasilnya akan menjadi 100 butir dengan harga Rp 2.500,- per buah. Penghasilan petani dari tiap tanaman akan naik dari semula Rp 50.000,- mejadi Rp 250.000,- Namun saat ini kita belum berani membicarakan faktor pengairan dan pemupukan ke pemilik pohon harummanis. Sebab dengan memanen masak pohon pun, sebenarnya sudah dicapai kemajuan luarbiasa.

0 komentar:

Poskan Komentar



SMS GRATIS ANLOVSY

Sample Text

Arsip Blog

Label

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

Followers