Kamis, 12 Juli 2012

Candi Menggung

Petilasan Prabu Airlangga


Candi Menggung



Jangan tertipu dengan namanya. Meski disebut candi, bangunan kuno yang disebut Candi Menggung ini hanya berupa dua arca batu. Sejarahnya masih kelam. Para arkeolog belum menemukan satu pun prasasti sebagai petunjuk. Namun, warga setempat meyakininya sebagai petilasan Prabu Airlangga.
Candi Menggung berada di puncak bukit kecil desa Nglurah, Tawangmangu, Karanganyar, Surakarta, Jawa Tengah. Wujudnya hanya berupa dua buah arca batu yang diberi pagar kurung tanpa atap. Dua arca itu penggambaran Tumenggung Narutama dan istri selirnya, Dewi Roso Putih. Dipercaya, Tumenggung Narutama adalah patih Prabu Airlangga. Masyarakat setempat juga meyakini, Candi Menggung atau Situs Menggung itu adalah petialsan bertapa Prabu Airlangga, sebelum muksa di Gunung Lawu.
Prabu Airlangga, dalam sejarahnya merupakan putra Raja Udayana Warmadewa, yang berkuasa di Bali pada tahun 988-1011 Masehi. Dari kisahnya, terungkap sejarah terbentuknya peradaban Nusantara. Peradaban Nusantara merupakan hasil sentuhan budaya bangsa pengembara dari Saka di India, yang masuk ke Nusantara ketika Nusantara masih dalam masa prasejarah. Bangsa Saka menanamkan pemahaman tentang seorang penguasa tunggal yang memiliki kuasa dari Shang Hyang Wenang, dan merupakan titisan dewa yang diberi tugas mengatur jagat mayapada dan isinya. Sejak itu, muncullah kerajaan-kerajaan Hindu di Nusantara dengan pemimpin tunggal atau raja yang dipercaya titisan dewa.
Terbentuklah Kerajaan Mulawarman di Kutai, Sriwijaya di Sumatera, Mataram Kuno di Jawa Tengah, dan Tarumanegara di Jawa Barat. Saat itu, Nusantara dikenal dengan nama Jawa Dwipara untuk kepulauan Jawa, dan Swarna Dwipara untuk kepulauan Sumatera. Di Jawa Barat dan Jawa Tengah, raja berasal dari wangsa Sanjaya. Di Kutai-Kalimantan serta Sumatera, raja berasal dari wangsa Warmadewa. Fakta tersebut berdasarkan beberapa prasasti dan peninggalan-peninggalan sejarah lainnya, yang masih menggunakan huruf Palawa dengan bahasa Sansekerta.
Di bali, dua wangsa tersebut saling bersaing berebut kekuasaan. Perebutan kekuasaan itu agak mereda dengan munculnya Raja Udayana Warmadewa, dengan permaisurinya, Gunapriya Darmapatni. Sementara itu di Jawa Timur, juga bermunculan kerajaan-kerajaan Hindu. Demikian pula di daerah lain di Nusantara. Gunapriya Darmapatni sendiri adalah putri Sri Dharmawangsa Teguh Anantha Wikrama Tungga Dewa, Raja Daha di Jawa Timur. Daha yang sering pula disebut Kahuripan, di masa Prabu Jayabaya kemudian lebih dikenal dengan nama Kediri.
Ketika raja Daha di Jawa Timur tersebut wafat, kakak Gunapriya Darmapatni yang bernama Kameswara, menjadi raja di Daha. Sudah itu, bertahun-tahun kemudian Airlangga menggantikannya menjadi raja di Daha pada tahun 1019-1085 Masehi, bergelar Sri Maharaja Rake Halu Sri Lokeswara Darmawangsa Erlangga Ananta Wikrama Tungga Dewa. Gelar ini menjadi penyebab terputusnya Airlangga dari garis wangsa Warmadewa, dan berujung pada pecahnya Daha menjadi dua, Jenggala dan Kediri.
Dikisahkan, Prabu Airlangga memiliki dua putra, Sri Jayabhaya dan Sri Jayasabha. Khawatir terjadi perang saudara di antara kedua putranya, Airlangga mengutus Empu Baradah menemui ayahandanya di Bali, dan meminta tahta untuk salah seorang putranya. Permintaan itu ditolak, karena Airlangga dianggap telah melepaskan haknya di Kerajaan Bali, dengan menjadi raja di Daha. Karena itu, dengan terpaksa Prabu Airlangga memecah kerajaannya menjadi dua.
Setelah membagi kerajaannya menjadi dua, beberapa tahun kemudian Prabu Airlangga wafat. Tetapi, masyarakat desa Nglurah meyakini Prabu Airlangga pernah singgah di desa itu, dan membangun candi sebagai pertapaan. Meski tak ditemukan satu pun prasasti di candi itu, warga setempat meyakini candi itu sebagai petilasan Prabu Airlangga. Bagaimana ceritanya? (to be continued..) http://kyaisengkelat.blogspot.com/

0 komentar:

Poskan Komentar



SMS GRATIS ANLOVSY

Sample Text

Arsip Blog

Label

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

Followers